~ WELCOME TO MY BLOG !! HOPEFULLY YOU CAN ADD A LITTLE KNOWLEDGE AFTER READING ALL MY POST ~

Senin, 15 April 2013

Jadi Pemain SepakBola ? Not a Problem !


Banyak orang tua merasa senang kalau mendengar anak-anaknya bercita-cita menjadi seorang Dokter, Pilot, Banker, Pengusaha dan Pegawai Negeri. Tapi mereka akan mengernyitkan dahi apa bila anak laki-laki mereka bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Bagi para orang tua, sepak bola itu bukan sebuah pekerjaan tapi sekedar olah raga biasa untuk menyalurkan hobi.

       Yah di Indonesia menjadikan cabang olah raga atau atlet olah raga sebagai pekerjaan bukan merupakan suatu pilihan yang menjanjikan. Masa depan seorang olahragawan/atlet tidak menjanjikan masa depan yang cerah. Jaman dulu sewaktu jaya-jaya perserikatan, banyak orang menjadi pemain sepak bola hanya sebagai batu loncatan untuk menjadi pegawai di suatu instansi pemerintah. Bagi yang beruntung biasanya diangkat sebagai tenaga honor bahkan pegawai negeri.

      Tentu kita masih ingat dengan Elyas Pical, mantan juara tinju dunia kelas bulu versi IBf yang sekarang nasibnya sangat memprihatinkan. Setelah pensiun dari olah raga tinju, Elyas Pical menjadi tenaga sekuriti di sebuah tempat hiburan malam bahkan konon katanya menjadi pengedar narkoba untuk menyambung kehidupannya. Banyak atlet-atlet tinju baik yang amatir maupun yang profisional setelah gantung sarung tinju bekerja sebagai tenaga keamanan/sekuriti di tempat tempaj hiburan malam atau sebagai penagih hutang/debt colektor. Ada juga Ramang, legenda sepak bola Indonesia yang nasibnya juga memprihantinkan setelah pensiun dari sepak bola.

Itulah sebabnya banyak orang tua tidak mau kalau anak gadisnya kawin dengan seorang olahragawan/atlet. Salah satunya ibunda Juli Perez atau yang lebih dikenal dengan Jupe, artis papan atas Indonesia. Ibunda Jupe menentang hubungan antara Jupe dengan Gaston castanyo, salah satu pemain asing yang berasal dari argentina dan merumput di salah satu klub sepak bola Indonesia. Alasannya yaitu tadi penghasilan seorang pasepak bola tidak menjanjikan masa depan bagi anak gadisnya. Ini merujuk pada dirinya sendiri yang pernah bersuamikan seorang pesepak bola.

      Tidak seperti Indonesia, di Eropa atau Amereka latin, orang tua malah mendorong anak-anak mereka untuk menjadi seorang pesepak bola. Sepak bola merupakan pekerjaan yang menjanjikan kehidupan yang mapan. Di eropa dan Amerika latin sepak bola sudah berkembang menjadi industri. Laiknya sebuah perusahaan industri, sepak bola dikelola dengan sangat profisional bahkan club-club sepak bola sudah go public yang artinya masyarakat bisa memiliki club itu dan memperolih keuntungan dengan cara membeli sahamnya di bursa efek. Bagi negara juga sangat menguntungkan, semakin banyak warga negaranya yang merumput di club-club kaya dan ternana di luar negeri tentu akan menghasilkan devisa yang sangat banyak dan mengalir ke kas negara. Dan tentu saja pesepak bola yang mempunyai penghasilan tinggi dan selangit akan menjadi incaran para gadis-gadis. Tentu akan menjadi kebanggan menjadi istri dan kekasih pesapakbola ternama, bisa numpang tenar dan menjadi batu loncatan untuk menjadi seorang artis. Menjadi pemain sepak bola ternama sama saja menjadi seorang super star, selalu menjadi perhatian masyarakat dan kehidupan pribadinya selalu menjadi santapan masyarakat umum. Tidak jarang seorang pemain bola sering dijadikan bintang iklan untuk memasarkan sebuah prodok tertentu atau didaulat membintangi sebuah film dengan honor yang selangit pula.

      Kembali ke Indonesia, sebenarnya berapa gajih minimum seorang pemain bola di Negara tercinta ini? Tidak ada yang tahu pasti. Dengar-dengar gaji seorang pemain top sekelas Bambang Pamungkas dan Firman utina sewaktu dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Dairah) diperbolehkan digunakan untuk membiayai sebuah club sepak bola diatas seratus juta per bulan. Wah lumayan besar juga untuk pemain bola lokal. Demikian juga dengan pemain asing yang merumput di Indonesia, tentunya gajinya lebih besar dari pemain top lokal. Tapi itu hanya berlaku untuk club sepak bola yang mempunyai basis supporter yang banyak dan dipunyai oleh Pemda yang mempunyai APBD yang cukup besar atau oleh pengusaha yang menjadikan sepak bola sebagai alat politik. Sedangkan club-club sepak bola yang pendukungnya sedikit dan menggantungkan pembiayaan dan gaji pemainnya pada pemda yang APBD tidak terlalu besar boleh dikata penghasilan pemainnya mungkin sama dengan UMR (Upah Minimum Regional) yang berlaku di daerah itu bahkan mungkin dibawahnya.

Semenjak penggunaan APBD Propensi dan Kotamadya/Kabupaten dilarang digunakan untuk membiayai sebuah Club sepak bola oleh Kementrian Keuangan, maka banyak sekali club-club sepak bola kelimpungan. Club-club sepak bola yang dulunya menyusu pada APBD sekarang tidak mendapat kucuran dana lagi, mereka dipersilahkan mencari sumber dananya sendiri dari iklan-iklan atau perusahaan yang mau menjadi sponsor. Maka hukum alam pun terjadi, club-club yang mempunyai massa supporter yang banyaklah yang bisa memperoleh sponsor dan iklan-iklan untuk membiayai operasional club dan tentu saja dari hasil penjualan teket. Sedangkan club sepak bola yang tidak mempunyai basis suporter yang banyak atau tidak ada sama sekali, jarang perusahaan yang mau menjadi sponsor dan mengiklan prodoknya dan pemasukan dari penjualan teket pun sangat minim sehingga operasional club ditanggung oleh para pengurusnya dengan cara patungan. Tapi tidak selamanya club yang mempunyai banyak suporter dan bisa mendapatkan sponsor bisa mengelola clubnya secara profisional. 

       Dilepasnya kepemilikan club oleh pemda kepada perorangan/yayasan membuat sebuah club limbung. Misalnya club sepak bola yang bermarkas di Ibu kota yang mempunyai supporter yang banyak dan fanatik menunggak utang gaji kepada para pemainnya sehingga para pemainnya dengan sangat terpaksa pindah ke club lain. Dengan hengkangnya sebagian besar para pemain senior dari club maka dengan sangat terpaksa menajemen club menggunakan pemain muda yang tidak berpengalaman bermain dikasta tertinggi sepak bola ditanah air. Dan hasilnya sementara ini menjadi juru kunci di dasar klasmen. Yah manajemen yang baik memang memegang peranan penting dalam pengelelolaan sepak bola yang berbasis industri.
Hal ini diperparah lagi dengan seringnya terjadi kerusuhan dalam pertandingan sepak bola, baik itu antar pemain yang saling baku hantam atau kerusuhan antar supporter sehingga banyak perusahaan yang tidak mau beriklan atau menjadi sponsor karena takut imej mereka akan buruk.


      Sebenarnya biaya operasional dan gaji pemain bisa dicover dengan penjualan teket dari penonton. Tapi kita pasti tau kalau kebanyakan atau sebagian suporter/penonton jarang mau keluar uang untuk membeli teket guna mendukung kesebelasannya. Mereka lebih senang masuk tampa bayar tentu saja dengan mendobrak pintu stadion. Istilahnya hanya bermodalkan nekat saja untuk memberikan dukungan. Tentu saja ini sangat berpengaruh bagi keuangan club, pemasukan dari teket tidak maksimal bahkan adakalanya harus nombok atau utang dulu kepada para pemainnya.
Kita tentu belum lupa berita-berita dari koran/majalah baik itu cetak maupun elektronek mengenai club-club sepak bola baik yang berlaga di IPL atau ISL yang menunggak pembayaran gaji pemainnya selama beberapa bulan bahkan ada pemain yang sakit kemudian meninggal dunia karena tidak bisa berobat kedokter. Sungguh eronis memang menjadi pemain sepak bola di Negeri ini. Kita adalah negara lima terbesar penduduknya di dunia dan hampir sembilan puluh persen penduduknya gila bola tapi menjadikan sepak bola sebagai industri hiburan yang bisa menyerap banyak tenaga kerja bahkan kalau perlu mengekspor pemain bola keluar negeri tidak bisa dilakukan oleh para petinggi negeri ini atau yang mempunyai wewenang dalam mengurusi persepak bolaan.


      Dengan kondisi seperti ini, jangan harap para orang tua mau anak laki-lakinya menjadikan sepak bola sebagai pekerjaan atau jangan harap para orang tua sudi anak perempuannya dilamar oleh pemain sepak bola. Masih mending jaman perserikatan, menjadi pemain sepak bola bisa saja diangkat menjadi pegawai negeri. Tidak seperti sekarang gaji pemain bola diutang, mau ngasih makan apa anak-istri. Lagi pula usia keemasaan seorang pesepak bola paling banter sampai umur 35 tahun. Setelah itu mau jadi apa? Pelatih sepak bola? Pelatih dan pemain itu setali tiga uang, gajinya selalu diutang oleh manajemen club. Tapi ya siapa tahu sepuluh tahunan kedepan sepak bola di Indonesia bisa menjadi sebuah industri seperti di Eropa dan Amerika latin. Untuk sekarang-sekarang ini jangan deh kalau ada anaknya bercita-cita menjadikan sepak bola sebagai mata pencaharian atau jangan mau kalau anak gadisnya dilamar oleh pemain sepak bola.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar