~ WELCOME TO MY BLOG !! HOPEFULLY YOU CAN ADD A LITTLE KNOWLEDGE AFTER READING ALL MY POST ~

Selasa, 16 April 2013

Cerita Bahasa Indonesia
Kaki seribu , Cicak dan Nyamuk




    Cerita ini hanyalah untuk lelucon semata :
          Nah inilah cerita baca sendiri ya :) 

Pada suatu saat tinggallah 3 binatang yang berbeda jenis , tetapi mereka mempunyai hubungan persahabatan yang cukup erat dan mereka pernah berjanji untuk tidak memakan satu sama lain diantara mereka ...
  Dan pada saat itu mereka bertiga sedang berada didalam tempat persembunyiannya yaaa istilahnya " Rumah lah ya " haha namanya juga cerita maklumi saja ..
    Lanjuutt : ketiga sahabat ini sedang kelaparan dan tidak ada bahan makanan yg bisa mereka makan , mereka pun berbagi tugas untuk mengambil makanan diluar , dan dengan enaknya si nyamuk ini menyuruh cicak untuk mengambil nya .

  Nyamuk : Hey Cak , mending lu aja dah yg ambil makanan diluar sekarang lu kan enak bisa merayap di dinding jadi cepet ..
  Cicak      : Yaahh , mending lu aja dah muk . Lu kan enak tinggal terbang doang lebih cepet dari gua gimana sihh .

Nah setelah mereka berdua berdebat ternyata mereka ga sadar kalo disampingnya masih ada kawannya satu lagi yaitu Kaki seribu .


Dengan enaknya Si cicak sama nyamuk langsung menyuruh kaki seribu , dengan terpaksa kaki seribu pun berangkat .

   Kaki seribu : Ya udah gua aja dah mendingan yang ngambil lu berdua tunggu sini ya , gua berangkat dulu .


  Dan kaki seribu pun membuka pintu dan keluar .

Karna lama menunggu cicak dan nyamuk pun tak sabar , mereka berdua bosan menunggu sampai akhirnya mereka berdua berfikir untuk menyusulnya .

Ternyata oh ternyata,,,,, Begitu nyamuk membuka pintu dan ingin keluar menyusul bersama cicak , eh ternyata si kaki seribu masih didepan pintu . ( Ngapain yaaa ? ) * Mikirr kerass

  Cicak : lah lu ko masih disini gua udah nungguin lama2 nih sama nyamuk , gimana lu ?
Nyamuk : iyanih ngapain sih lu disitu bukannya jalan dari tadi .

Dan apa jawab dari kaki seribu ??

Kaki seribu : Yaa ilah lu berdua ngomel2 aja , sabar dong ! . Ini gua lagi make kaos kaki gua yang ke 999 Belum sepatunya . ( Nahh loohhh , emang dasar ya kalo punya Kaki banyak mah )


Terima kasih sudah mau baca ,, Ini cuma cerita untuk hiburan semata aja ya all :) Mohon maaf jika ada kata2 yang salah dan tidak jelas . maklumi saja namanya juga Manusia .

                           

Penulis:@Riisky_AM

  
          Syekh Yusuf al Makassari Terbuang hingga Afrika


( Makassar tumpah darahnya, berilmu di tanah Makkah dan Madinah, Banten ladang jihadnya, terasing di Srilangka, terbuang hingga Afrika )

   Adalah Syekh Yusuf, putera asli Makassar, lahir di Kerajaan Gowa pada tahun 1626 M. Dari asal usulnya, beliau merupakan keturunan bangsawan di kalangan suku bangsa Makassar dan mempunyai pertalian kerabat dengan raja-raja Banten, Gowa dan Bone.
Dari segi ketokohannya, ia bukan hanya ulama syariat, tapi juga sufi, pemimpin tarikat, pengarang, pejuang, dan musuh besar kompeni Belanda. Oleh pemerintah kompeni di Hindia Timur (Indonesia), Syekh Yusuf dianggap duri dalam daging, hingga ia diasingkan ke Ceylon (Srilangka), kemudian dipindahkan ke Afrika Selatan dan wafat di pengasingannya, Cape Town, pada tahun 1699 M.
Pada zamannya (abad ke 17), Syekh Yusuf dikenal hingga empat negeri, yakni: Makkah, Banten, Sulawesi Selatan, Ceylon dan Afrika Selatan. Beliaulah peletak dasar kehadiran komunitas Muslim di Afrika Selatan dan Ceylon bahkan dianggap bapak bangsa rakyat Afrika Selatan, karena perjuangannya mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk menentang penindasan dan perbedaan warna kulit.
Bayangkan, sejak usia 18 tahun (abad ke 17) Syekh Yusuf telah mengembara selama 20 tahun untuk mencari ilmu dari Makassar ke Banten, Aceh, Yaman, Makkah, Madinah dan Damaskus, mendalami tasawuf dan mengajar di Masjidil Haram pada usia 38 tahun. Begitu besar motivasi belajar anak muda ini.
Selama pengembaraannya mencari ilmu, Syekh Yusuf mengantongi ijazah dari beberapa tarekat, seperti tarekat Naqsabandiyah, Syattariyah, Ba’alawiyah, dan Qadariyah. Namun dalam pengajarannya, beliau tidak pernah menyinggung pertentangan antara Hamzah Fansuri yang mengembangkan ajaran wujudiyah dengan Syekh Nuruddin ar-Raniri pada abad itu.
Menurut peneliti asal Belanda, B.F Matthes, Islam sudah hadir sebelum Syekh Yusuf terlahir. Masuknya Islam di Sulawesi Selatan dibawa oleh Datok ri Bandang (juga disebut Katte toenggalak), yang berasal dari kota tengah Minangkabau. Tidak lama sesudah Islam diterima di Sulawesi Selatan, lahirlah seorang bernama Sehe Yusoepoe atau Sjaich Josef Toeang Salama. Beliau dikenal sebagai wali dibawah pemerintahan Raja Gowa ke-19, Abdul Djalil Tuemenanga  ri Lakiung.
Matthes mengungkapkan, selama Yusoepoe berdiam di Bantam (Jawa) sesudah kembali dari Makkah, ia mendapat kunjungan seorang wali dari Gowa bernama Toeang Rappang atau Abdoel Bashir Sehetta I Wodi. Toeang Rappang pernah bersama-sama dengan Yusoepoe di Makkah. Ia adalah seorang buta dan luas pengetahuannya, yang mendapat tugas oleh gurunya agar kembali ke Gowa untuk menyebarkan agama Islam. Tahun 1644, Syekh Yusuf pun meninggalkan tanah airnya dan bermaksud berziarah ke Makkah melalui Banten.
Pengembara Ilmu Sejati
Berdasarkan sumber buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Abu Hamid (Guru Besar Antropologi Universitas Hasanuddin) berjudul: “Syekh Yusuf: Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang”,Syekh Yusuf meninggalkan negerinya Gowa menuju pusat Islam di Makkah pada tanggal 22 September 1644 dalam usia 18 tahun. Dengan menumpang kapal melayu dari pelabuhan Somba Opu, ia berangkat untuk tujuan pertama, yakni ke Banten, sebagaimana jalur niaga pada masa itu di Laut Jawa. Nama Banten rupanya sudah sering didengar oleh Syekh Yusuf dari pelaut-pelaut dan pedagang-pedagang Melayu
Kapal niaga Melayu berlabuh di beberapa daerah niaga sekitar Laut Jawa, sehingga perjalanan ke Banten ditempuh dalam waktu delapan hari. Di Banten, Syekh Yusuf cepat menyesuaikan diri dan berkenalan dengan ulama-ulama, ahli agama, dan pejabat-pejabat agama. Bahkan Yusuf sempat bersahabat baik dengan putra mahkota Pangeran Surya yang dikenal dengan Abdul Fattah Sultan Ageng Tirtayasa.
Merasa belum puas dengan pengajian-pengajian yang dipelajarinya di Banten, maka ia memutuskan untuk berangkat ke Aceh, tepatnya pada masa pemerintahan Sultanah Tajul Alam dan menemui Syekh Nuruddin ar-Raniri.
Walaupun bukti-bukti dokumenter di Aceh atas kedatangan Syekh Nuruddin dalam periode ini tidak ada, namun dapat dilihat bahwa Syekh Yusuf pernah berguru pada Syekh Nuruddin dan menerima ijazah tarekat Qadariyah, seperti yang ditulis olehnya dalam risalah “Safinat an-Naja”
Setelah Syekh Yusuf menerima ijazah tarekat Qadariyah dari Syekh Nuruddin, ia berusaha ke negara Timur Tengah untuk menambah ilmunya dan menunaikan ibadah haji sebagaimana tujuan semula. Keseluruhan waktu yang digunakan oleh Syekh Yusuf selama di Banten dan Aceh kurang lebih lima tahun, sehingga diduga ia berangkat ke Timur Tengah pada tahun 1649. Menurut Buya Hamka, keberangkatannya ini bertolak dari Aceh dan bukan dari Banten.
Versi lain mengatakan, Syekh Yusuf berangkat dari pelabuhan Banten. Mengingat Banten merupakan pusat penyalur barang dagangan ke Eropa dan negara-negara lain, menggantikan posisi Malaka sesudah diruntuhkan oleh Kompeni Belanda tahun 1641.
Sumber-sumber lontarak menyebutkan bahwa perjalanan Syekh Yusuf dari Banten ke Saudi Arabia melalui Ceylon (Srilangka), memakan waktu 56 hari. Di Arab Saudi, Syekh Yusuf mula-mula mengunjungi negeri Yaman dan berguru dengan Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi. Ia dianugrahi ijasah tarekat Naqsabandi.
Masih di negeri Yaman, Syekh Yusuf berguru dengan Syekh Maulana Sayed Ali. Dari gurunya ini, Syekh Yusuf menerima ijazah tarekat al-Baalawiyah. Setelah musim haji, ia ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke Madinah untut menuntut ilmu. Di Madinah, ia menjumpai Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kaurani yang merupakan guru Syekh Abdurrauf Singkel. Dari syekh ini, ia diberi ijasah tarekat Syattariyah.
Belum puas juga dengan berbagai ijasah tarekat, Syekh Yusuf bertolak ke negeri Syam (Damaskus). Di Syam ia menemui Syekh Abu al Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Qurasyi.  Sang guru memberi ijasah tarekat Khalwatiyah, dan mengukuhkannya dengan gelar Tajul Khalwati Hadiyatullah.
Dalam Risalah Syekh Yusuf Safinat an-Naja, selain lima tarekat tadi, ia juga mempelajari tarekat Dasuqiyah, Syadziliyah, Hasytiyah, Rifaiyah, al-Idrusiyah, Suhrawardiyah, Maulawiyah, Kubrawiyah, Madariyah, Makhduniyah dan lain-lain.
Syekh Yusuf kemudian membuka pengajian dalam Masjidil Haram. Ia dikenal sebagai Ulama Jawi dan beberapa jamaah haji dari Indonesia (Hindia Belanda) pernah berguru padanya. Melihat pelbagai  jenis aliran tarekat yang pernah dipelajarinya, bukti Syekh Yusuf memiliki pengetahuan yang tinggi, luas dan mendalam. Betapa tidak, ia jelajahi ilmu pengetahuan, khususnya ilmu tasawuf, di Timur Tengah sekitar 15 tahun, berkenalan dengan berguru pada syekh termasyhur di zamannya.
Sekembalinya dari Makkah, Syekh Yusuf berdiam diri di Banten dan menikah dengan seorang bangsawan puteri Sultan Banten Tirtayasa. Selama berada di Banten sekitar 20 tahun, Syekh Yusuf diangkat sebagai mufti kerajaan, guru bagi Sultan dan keluarganya, serta syeikh tarikat bagi penduduk. Ia mengajar selama 18 tahun.
Perang Gerilya
Ketika terjadi pertempuran antara Kerajaan Banten dengan kompeni Belanda, Syekh Yusuf berpihak pada Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam peperangan itu, kompeni dibantu oleh Sultan Haji. Saat Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap Belanda, Syekh Yusuf menggantikannya, ia memimpin pasukan dengan gagah berani, bergerilya melawan kompeni di hutan rimba Jawa Barat hampir dua tahun lamanya.
Perlawanan Syekh Yusuf bersama Sultan Ageng Tirtayasa dalam melawan kompeni, diuraikan F. de Haan dalam bukunya “Priangan Jilid III”, menceritakan tentang pengepungan dan pengejaran laskar-laskar Banten, termasuk Syekh Yusuf saat melakukan taktik perang gerilya. Disebutkan bahwa pada bulan Januari 1683, Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya, dan Pangeran Kidul mengadakan perang gerilya di daerah Tangerang. Dari Tangerang kemudian ke Cimuncang, lalu ke  Jasinga dan terus menyusuri Sungai Cidurian.
Kompeni memerintahkan Van Happel untuk mengejar gerilyawan itu. Dari daerah Jasinga, Syekh Yusuf menuju ke arah timur, tepatnya Jakarta Selatan untuk tujuan ke Cirebon. Pada tanggal 11 Februari 1683, Syekh Yusuf bersama Pangeran Kidul dan pasukannya menuju Cikaniki, hingga tak terkejar oleh kompeni karena rintangan alam. Dari daerah Cikaniki, Syekh Yusuf menuju Cianten lewat Cisarua dengan membawa pasukan kurang lebih 5.000 orang, termasuk 1.000 orang Makassar, Bugis dan Melayu.
Pada tanggal 25 September 1683 di Padaherang, istri serta puteri Syekh Yusuf ditangkap kompeni, sedangkan Pangeran Kidul beserta pembesar Banten lainnya gugur di medan peperangan. Menyusul  putrinya yang bernama Asma ditangkap. Akhirnya pada tanggal 14 Desember, setelah Syekh Yusuf membuat pertahanan di daerah Mandala, Van Happel dengan berpakaian Islam menggunakan putri Syekh Yusuf yang dijadikan tawanan sebagai siasat.
Atas desakan Van Happel, putrinya diminta untuk membujuk  Syekh Yusuf agar keluar dari persembunyiannya. Alhasil, Syeikh Yusuf menebus putrinya dengan menunjukkan batang hidungnya. Saat itu pula Van Happel menangkap Syekh Yusuf untuk segera dibawa ke Cirebon, kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Betawi (Jakarta). Sementara itu pasukannya yang terdiri dari orang-orang Makassar dan Bugis dikembalikan ke Sulawesi.
Pada tanggal 12 September 1684, Syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon. Selama pengasingannya di Ceylon, ia isi waktunya dengan menulis karangan-karangannya yang dikirim melalui jamaah haji ke Indonesia. Ia juga mengajar tarekat Khalwatiyah. Kini, murid-muridnya tersebar mulai dari Banten, Sulawesi Selatan, Caylon, hingga Cape Town. Tak banyak riwayat hidup Syekh Yusuf yang terungkap ketika berada di Ceylon.
Dari pembuangannya di Ceylon kemudian dipindahkan ke Cape Town pada 7 Juli 1694 bersama 49 orang pengikutnya. Di sana pula, Syekh Yusuf menghabiskan waktunya dengan menulis. Karangan-karangannya di Afrika Selatan sampai sekarang belum ditemukan.
Riwayat hidup Syekh Yusuf di Cape Town (Afrika Selatan) mulai diceritakan oleh I.D du Plessis dalam bukunya “Die Bydrae van die Kaapse Maleier tot die Afrikaanse Volkslied”tahun 1935. dikatakan bahwa Syekh Yusuf adalah peletak dasar dari keberadaan Islam di Afrika Selatan. Syekh Yusuf wafat tahun 1699, sedangkan pengikut-pengikutnya masih tetap tinggal di Cape sampai tahun 1704. Sesudah tahun ini, diaturlah pengiriman kembali keluarganya ke Makassar, kecuali seorang anggota yang sudah menikah diizinkan tetap tinggal.
Sejak pengasingannya dipindahkan dari Ceylon ke Afrika Selatan, ketika itu pula penguasa kompeni Belanda berusaha mengikis habis pengaruh Syekh Yusuf di Makassar dan Banten. Berbagai cara dilakukan untuk memalingkan perhatian rakyat, terutama bekas anak buahnya di Priangan dan yang dikembalikan ke Sulawesi setelah Syekh Yusuf ditangkap.
Ketika murid-murid tarekat Yusuf amat menghormatimurabbi-nya itu, penguasa kompeni mulai melancarkan siasahnya dengan mengaburkan ide perjuangan Syekh Yusuf, bahkan namanya diedarkan di kalangan rakyat dengan segala macam cerita kegaiban, dibungkus dengan berbagai paham-paham mistis, seolah-olah kegigihan Syekh Yusuf melawan kompeni tak pernah ada. Belanda menggunakan taktik untuk menekan pergolakan dan permusuhan terhadap kompeni atas pengaruh sebuah nama.
Usaha ini untuk beberapa waktu memang berhasil, dengan terciptanya hegemoni di darat dan lautan. Namun, kemasyhuran seorang Syekh Yusuf telah melampai batas benua. Sehingga kebesaran Syekh Yusuf, tak lagi menjadi milik bangsa Indonesia, atau sekadar pahlawan nasional, tapi sudah mendunia. Sampai-sampai makamnya berada di dua tempat, yakni di Afrika Selatan dan di Lakiung (Gowa), selalu ramai diziarahi. Syekh Yusuf yang masyhur sampai ke empat negeri, membuat ia dikenal oleh para peneliti dengan nama lengkap Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Maqassariy al-Bantaniy.
Berkembang Mitos
Syekh Yusuf wafat 23 Mei 1699 wafat didesa Maccasar, 40 km dari Cape Town dalam usia 73 tahun. Ia dimakamkan dibukit desa yang terletak di Teluk False. Karena desakan keluarga, maka 6 tahun kemudian VOC membawa keranda beliau menyeberangi samudera lalu dimakamkan di kampung halamannya di Lakiung. Ketika itu keranda Syekh Yusuf dibawa bersama oleh keluarganya dengan kapal de Spiegelyang berlayar langsung dari Kaap (Cape) ke Makassar.
Setelah disemayamkan di Istana Raja Gowa selama sehari semalam untuk memberi kesempatan kepada sanak keluarganya mengucapkan doa perpisahan terakhir, keesokan harinya, Syekh Yusuf dimakamkan di Lakiung pada hari Selasa, 6 April 1705 dengan upacara kebesaran  kaum bangsawan.
Sayang, Syekh Yusuf yang dikenal sebagai ilmuwan, pengarang dan pahlawan pertempuran melawan kolonialisme pada abad ke-17 ini, kuburannya jadi tempat bernazar serta berdoa memohon murah rezeki, enteng jodoh, pangkat, kesehatan, dan panjang umur. Masyarakat setempat menyebutnya makam Tuanta Salamuka. Ada pula yang menyebutnya Tuan Karamat. Setelah dibangun kubah, masyarakat menyebutnya Kobangga.
Kisah-kisah yang beredar di daerah asal mengenai pejuang besar ini, banyak diwarnai aroma mitos, mistis, legenda dan a-historis. Bahkan di Cape Town sendiri, bermacam-macam dongeng bisa didengar seputar hal-hal yang tidak rasional. Oleh pembawa kisah, Syekh Yusuf digambarkan sebagai sosok yang memiliki kesaktian mampu terbang melayang dan berjalan di atas lautan.
Pemerintah kolonial sepertinya sengaja membesar-besarkan berbagai dongeng tanpa dasar tarikh. Syekh Yusuf diredusir kebesaran pribadinya yang sejati, kedalaman ilmunya sebagai ulama dan kepemimpinan anti-kolonialnya yang gagah berani, diperkecil sehingga cukuplah semata-mata menjadi tokoh keramat yang kabur sosok teladannya. Padahal seorang Nelson Mandela pernah menyebut tokoh besar ini sebagai putera Afrika, pejuang teladan.
Selama di Banten dan pembuangan di Ceylon (1684-1693), Syekh Yusuf telah mewarisi risalah sebanyak 29 judul. Kebanyakan karya yang ditulisnya adalah ilmu tasawuf dan tarekat. Namun, sayang, tidak banyak orang yang membacanya. Bahkan ironinya, naskah-naskah itu terlantar 300 tahun lamanya, bisa dikatakan belum diterjemahkan dan belum dibaca oleh bangsanya sendiri. (Desastian)

Senin, 15 April 2013

Jadi Pemain SepakBola ? Not a Problem !


Banyak orang tua merasa senang kalau mendengar anak-anaknya bercita-cita menjadi seorang Dokter, Pilot, Banker, Pengusaha dan Pegawai Negeri. Tapi mereka akan mengernyitkan dahi apa bila anak laki-laki mereka bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Bagi para orang tua, sepak bola itu bukan sebuah pekerjaan tapi sekedar olah raga biasa untuk menyalurkan hobi.

       Yah di Indonesia menjadikan cabang olah raga atau atlet olah raga sebagai pekerjaan bukan merupakan suatu pilihan yang menjanjikan. Masa depan seorang olahragawan/atlet tidak menjanjikan masa depan yang cerah. Jaman dulu sewaktu jaya-jaya perserikatan, banyak orang menjadi pemain sepak bola hanya sebagai batu loncatan untuk menjadi pegawai di suatu instansi pemerintah. Bagi yang beruntung biasanya diangkat sebagai tenaga honor bahkan pegawai negeri.

      Tentu kita masih ingat dengan Elyas Pical, mantan juara tinju dunia kelas bulu versi IBf yang sekarang nasibnya sangat memprihatinkan. Setelah pensiun dari olah raga tinju, Elyas Pical menjadi tenaga sekuriti di sebuah tempat hiburan malam bahkan konon katanya menjadi pengedar narkoba untuk menyambung kehidupannya. Banyak atlet-atlet tinju baik yang amatir maupun yang profisional setelah gantung sarung tinju bekerja sebagai tenaga keamanan/sekuriti di tempat tempaj hiburan malam atau sebagai penagih hutang/debt colektor. Ada juga Ramang, legenda sepak bola Indonesia yang nasibnya juga memprihantinkan setelah pensiun dari sepak bola.

Itulah sebabnya banyak orang tua tidak mau kalau anak gadisnya kawin dengan seorang olahragawan/atlet. Salah satunya ibunda Juli Perez atau yang lebih dikenal dengan Jupe, artis papan atas Indonesia. Ibunda Jupe menentang hubungan antara Jupe dengan Gaston castanyo, salah satu pemain asing yang berasal dari argentina dan merumput di salah satu klub sepak bola Indonesia. Alasannya yaitu tadi penghasilan seorang pasepak bola tidak menjanjikan masa depan bagi anak gadisnya. Ini merujuk pada dirinya sendiri yang pernah bersuamikan seorang pesepak bola.

      Tidak seperti Indonesia, di Eropa atau Amereka latin, orang tua malah mendorong anak-anak mereka untuk menjadi seorang pesepak bola. Sepak bola merupakan pekerjaan yang menjanjikan kehidupan yang mapan. Di eropa dan Amerika latin sepak bola sudah berkembang menjadi industri. Laiknya sebuah perusahaan industri, sepak bola dikelola dengan sangat profisional bahkan club-club sepak bola sudah go public yang artinya masyarakat bisa memiliki club itu dan memperolih keuntungan dengan cara membeli sahamnya di bursa efek. Bagi negara juga sangat menguntungkan, semakin banyak warga negaranya yang merumput di club-club kaya dan ternana di luar negeri tentu akan menghasilkan devisa yang sangat banyak dan mengalir ke kas negara. Dan tentu saja pesepak bola yang mempunyai penghasilan tinggi dan selangit akan menjadi incaran para gadis-gadis. Tentu akan menjadi kebanggan menjadi istri dan kekasih pesapakbola ternama, bisa numpang tenar dan menjadi batu loncatan untuk menjadi seorang artis. Menjadi pemain sepak bola ternama sama saja menjadi seorang super star, selalu menjadi perhatian masyarakat dan kehidupan pribadinya selalu menjadi santapan masyarakat umum. Tidak jarang seorang pemain bola sering dijadikan bintang iklan untuk memasarkan sebuah prodok tertentu atau didaulat membintangi sebuah film dengan honor yang selangit pula.

      Kembali ke Indonesia, sebenarnya berapa gajih minimum seorang pemain bola di Negara tercinta ini? Tidak ada yang tahu pasti. Dengar-dengar gaji seorang pemain top sekelas Bambang Pamungkas dan Firman utina sewaktu dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Dairah) diperbolehkan digunakan untuk membiayai sebuah club sepak bola diatas seratus juta per bulan. Wah lumayan besar juga untuk pemain bola lokal. Demikian juga dengan pemain asing yang merumput di Indonesia, tentunya gajinya lebih besar dari pemain top lokal. Tapi itu hanya berlaku untuk club sepak bola yang mempunyai basis supporter yang banyak dan dipunyai oleh Pemda yang mempunyai APBD yang cukup besar atau oleh pengusaha yang menjadikan sepak bola sebagai alat politik. Sedangkan club-club sepak bola yang pendukungnya sedikit dan menggantungkan pembiayaan dan gaji pemainnya pada pemda yang APBD tidak terlalu besar boleh dikata penghasilan pemainnya mungkin sama dengan UMR (Upah Minimum Regional) yang berlaku di daerah itu bahkan mungkin dibawahnya.

Semenjak penggunaan APBD Propensi dan Kotamadya/Kabupaten dilarang digunakan untuk membiayai sebuah Club sepak bola oleh Kementrian Keuangan, maka banyak sekali club-club sepak bola kelimpungan. Club-club sepak bola yang dulunya menyusu pada APBD sekarang tidak mendapat kucuran dana lagi, mereka dipersilahkan mencari sumber dananya sendiri dari iklan-iklan atau perusahaan yang mau menjadi sponsor. Maka hukum alam pun terjadi, club-club yang mempunyai massa supporter yang banyaklah yang bisa memperoleh sponsor dan iklan-iklan untuk membiayai operasional club dan tentu saja dari hasil penjualan teket. Sedangkan club sepak bola yang tidak mempunyai basis suporter yang banyak atau tidak ada sama sekali, jarang perusahaan yang mau menjadi sponsor dan mengiklan prodoknya dan pemasukan dari penjualan teket pun sangat minim sehingga operasional club ditanggung oleh para pengurusnya dengan cara patungan. Tapi tidak selamanya club yang mempunyai banyak suporter dan bisa mendapatkan sponsor bisa mengelola clubnya secara profisional. 

       Dilepasnya kepemilikan club oleh pemda kepada perorangan/yayasan membuat sebuah club limbung. Misalnya club sepak bola yang bermarkas di Ibu kota yang mempunyai supporter yang banyak dan fanatik menunggak utang gaji kepada para pemainnya sehingga para pemainnya dengan sangat terpaksa pindah ke club lain. Dengan hengkangnya sebagian besar para pemain senior dari club maka dengan sangat terpaksa menajemen club menggunakan pemain muda yang tidak berpengalaman bermain dikasta tertinggi sepak bola ditanah air. Dan hasilnya sementara ini menjadi juru kunci di dasar klasmen. Yah manajemen yang baik memang memegang peranan penting dalam pengelelolaan sepak bola yang berbasis industri.
Hal ini diperparah lagi dengan seringnya terjadi kerusuhan dalam pertandingan sepak bola, baik itu antar pemain yang saling baku hantam atau kerusuhan antar supporter sehingga banyak perusahaan yang tidak mau beriklan atau menjadi sponsor karena takut imej mereka akan buruk.


      Sebenarnya biaya operasional dan gaji pemain bisa dicover dengan penjualan teket dari penonton. Tapi kita pasti tau kalau kebanyakan atau sebagian suporter/penonton jarang mau keluar uang untuk membeli teket guna mendukung kesebelasannya. Mereka lebih senang masuk tampa bayar tentu saja dengan mendobrak pintu stadion. Istilahnya hanya bermodalkan nekat saja untuk memberikan dukungan. Tentu saja ini sangat berpengaruh bagi keuangan club, pemasukan dari teket tidak maksimal bahkan adakalanya harus nombok atau utang dulu kepada para pemainnya.
Kita tentu belum lupa berita-berita dari koran/majalah baik itu cetak maupun elektronek mengenai club-club sepak bola baik yang berlaga di IPL atau ISL yang menunggak pembayaran gaji pemainnya selama beberapa bulan bahkan ada pemain yang sakit kemudian meninggal dunia karena tidak bisa berobat kedokter. Sungguh eronis memang menjadi pemain sepak bola di Negeri ini. Kita adalah negara lima terbesar penduduknya di dunia dan hampir sembilan puluh persen penduduknya gila bola tapi menjadikan sepak bola sebagai industri hiburan yang bisa menyerap banyak tenaga kerja bahkan kalau perlu mengekspor pemain bola keluar negeri tidak bisa dilakukan oleh para petinggi negeri ini atau yang mempunyai wewenang dalam mengurusi persepak bolaan.


      Dengan kondisi seperti ini, jangan harap para orang tua mau anak laki-lakinya menjadikan sepak bola sebagai pekerjaan atau jangan harap para orang tua sudi anak perempuannya dilamar oleh pemain sepak bola. Masih mending jaman perserikatan, menjadi pemain sepak bola bisa saja diangkat menjadi pegawai negeri. Tidak seperti sekarang gaji pemain bola diutang, mau ngasih makan apa anak-istri. Lagi pula usia keemasaan seorang pesepak bola paling banter sampai umur 35 tahun. Setelah itu mau jadi apa? Pelatih sepak bola? Pelatih dan pemain itu setali tiga uang, gajinya selalu diutang oleh manajemen club. Tapi ya siapa tahu sepuluh tahunan kedepan sepak bola di Indonesia bisa menjadi sebuah industri seperti di Eropa dan Amerika latin. Untuk sekarang-sekarang ini jangan deh kalau ada anaknya bercita-cita menjadikan sepak bola sebagai mata pencaharian atau jangan mau kalau anak gadisnya dilamar oleh pemain sepak bola.

SEJARAH SINGKAT KERAJAAN GOWA

A.   Asal-Usul Dan Perkembangan Kerajaan Gowa
1.Masa Sebelum Tumanurung
Sebelum zaman Tumanurung, ada empat raja yang pernah mengendalikan Pemerintahan Gowa yakni : Batara Guru, saudara Batara Guru yang dibunuh oleh Tatali (tak diketahui nama aslinya), Ratu Sapu atau Marancai dan Karaeng Katangka (Nama aslinya tak diketahui). Keempat raja tersebut tak diketahui asal-usulnya serta masa pemerintahannya. Tapi mungkin pada masa itu, Gowa purba terdiri dari 9 kasuwiang ( kasuwiyang salapang) mungkin pula lebih yang dikepalai seorang penguasa sebagai raja kecil. Setelah pemerintahan Karaeng katangka, maka sembilan kerajaan kecil bergabung dalam bentuk pemerintahan federasi yang diketuai oleh Paccalaya. 

2.Masa Tumanurung
Berdasarkan hasil penelitian sejarah, baik melalui lontarak maupun cerita yang berkembang di masyarakat, dapat diketahui bahwa munculnya nama Gowa dimulai pada tahun 1320, yakni pada masa pemerintahan Raja Gowa pertama bernama Tumanurunga. Konon, sebelum Tumanurunga hadir di Butta Gowa, ada sembilan negeri kecil yang kini lebih dikenal dengan istilah Kasuwiang Salapanga yakni : Kasuwiang Tombolo, Lakiung, Samata, Parang-parang, Data, Agang Je’ne, Bisei, Kalling dan Sero. Kesembilan negeri tersebut mengikatkan diri dalam bentuk persekutuan atau pemerintahan federasi dibawa pengawasan Paccallaya (Ketua Dewan Pemisah).
Walaupun mereka bersatu, tetapi ke sembilan negeri tersebut sering dilanda perang saudara antara Gowa di bagian utara dan Gowa di bagian selatan. Paccallaya sebagai ketua federasi tak sanggup mengatasi peperangan tersebut. Hal tersebut karena Paccallaya hanya berfungsi sebagai lambang yang tidak memiliki pengaruh kuat terhadap anggota persekutuan yang masing-masing punya hak otonom.Untuk mengatasi perang saudara tersebut, diperlukan seorang pemimpin yang kharismatik dan dapat diterima oleh kesembilan kelompok tersebut. Terdengarlah berita orang Paccallaya, bahwa ada seorang putri yang turun di atas bukit Tamalate tepatnya di Taka’bassia. Saat penantian, orang-orang yang berada di Bonto Biraeng melihat seberkas cahaya dari utara bergerak perlahan-lahan turun menuju Taka’bassia.
       Kejadian itu cepat diketahui oleh Gallarang Mangasa dan bolo yang memang diserahi tugas mencari tokoh yang bisa menjadi pemersatu kaum yang berseteru itu. Paccalaya bersama ke sembilan kasuwiang bergegas ke Taka’bassia. Di sana mereka duduk mengelilingi cahaya sambil bertafakur. Cahaya itu kemudian menjelma menjadi seorang putri yang cantik jelita disertai pakaian kebesarannya antara lain berupa mahkota.Baik Paccalaya maupun Kasuwiang tak mengetahui nama putri tersebut, sehingga mereka sepakat memberi nama Tumanurung Bainea atau Tumanurung, artinya orang (wanita) yang tidak diketahui asal usulnya.
        Karena putri ratu tersebut memiliki keajaiban, Paccalaya dan Kasuwiang Salapang sepakat untuk mengangkat Tumanurung sebagai rajanya. Paccalaya kemudian mendekati Tumanurunga seraya bersembah “Sombangku!” (Tuanku), kami datang semua ke hadapan sombangku, kiranya sombangku sudi menetap di negeri kami dan menjadi raja di negeri kami. Permohonan Paccalaya tersebut dikabulkan, dan berseru “Sombai Karaengnu tu Gowa (Sombalah rajamu hai orang Gowa). Baik Kasuwiang maupun warga yang ada di sekitar itu berseru “Sombangku”. Setelah Tumanurunga resmi menjadi Raja Gowa pertama pada tahun 1320 negeri Gowa kembali menjadi aman.
Masa pemerintahan Tumanurunga berlangsung sejak tahun 1320-1345. Diriwayatkan, Tumanurunga kemudian kawin dengan Karaeng Bayo, yaitu seorang pendatang yang tidak diketahui asal usulnya. Hanya dikatakan berasal dari arah selatan bersama temannya Lakipadada. Dari hasil perkawinan tersebut lahirlah Tumassalangga Baraya yang nantinya menggantikan ibunya menjadi raja Gowa kedua (1345-1370). Menjelang abad XVI, pada masa pemerintahan Raja Gowa VI, Tunatangka Lopi, membagi wilayahnya menjadi dua bagian terhadap dua orang putranya, yaitu Batara Gowa dan Karaeng Loe Ri Sero. Batara Gowa melanjutkan kekuasaan ayahnya yang meninggal dunia. Wilayahnya meliputi (1) Paccelekang, (2) Patalassang, (3) Bontomanai Ilau, (4) Bontomanai Iraya, (5) Tombolo, dan (6) Mangasa.
Adiknya, Karaeng Loe ri Sero, mendirikan kerajaan baru yang bernama kerajaan Tallo dengan wilayah sebagai berikut: (1) Saumata,(2) Pannampu, (3) Moncong Loe, dan (4) Parang Loe. Beberapa kurun waktu, kedua kerajaan itu terlibat pertikaian dan baru berakhir pada masa pemerintahan Raja Gowa IX Karaeng Tumapakrisik Kallonna. Setelah melalui perang, beliau berhasil menaklukkan pemerintahan raja Tallo III I Mangayaoang Berang Karaeng Tunipasuru. Sejak itu, terbentuklah koalisi antara Kerajaan Gowa dan Tallo, dengan ditetapkannya bahwa Raja Tallo menjadi Karaeng Tumabbicara butta atau Mangkubumi (Perdana menteri) Kerajaan Gowa. Begitu eratnya hubungan kedua kerajaan ini sebagai kerajaan kembar, sehingga lahir pameo di kalangan rakyat Gowa dan Tallo dalam peribahasa “Dua Raja tapi hanya satu rakyat (Ruwa Karaeng Se’re Ata). Kesepakatan ini diperkuat oleh sebuah perjanjian yang dibuat dua kerajaan ini ,”iami anjo nasitalli’mo karaenga ri Gowa siagang karaenga ri Tallo, gallaranga iangaseng ribaruga nikelua. Ia iannamo tau ampasiewai Goa-Tallo, iamo macalla rewata”.
3.Masa Perkembangan Kerajaan Gowa
Pada permulaan abad ke-XVI kerajaan Gowa mengalami kemajuan di bidang Ekonomi dan politik pada masa pemerintahan Raja Gowa IX Daeng Matanre Karaeng Manguntungi bergelar “Tumapakrisik Kallonna”, dan dipindahkanlah Ibukota dari istana kerajaan dari Tamalate ke Somba Opu. Disana beliau membangun sebuah dermaga yang menjadikan Gowa sebagai Kerajaan Maritim yang terkenal di wilayah nusantara bahkan sampai ke luar negeri. Bandar niaga Somba Opu dijadikan bandar transito sehingga ramai dikunjungi pedagang dari luar negeri.
Pada masa Karaeng Tumapakrisik Kallonna itu pula, Gowa telah berhasil memperluas daerah kekuasaannya dengan menaklukkan berapa daerah di sekitarnya, seperti Garassi, Katingan, Mandalle, Parigi, Siang (Pangkajene), Sidenreng, Lempangan, Bulukumba, Selayar, Panaikang, Campaga, Marusu, Polongbangkeng (Takalar), dan lain-lain. selanjutnya Sanrobone, Jipang, Galesong, Agang Nionjok, Tanete (Barru), Kahu, dan Pakombong dijadikannya sebagai Palilik atau kerajaan taklukan Gowa tetapi masih diberi kesempatan memerintah. Mereka diwajibkan membayar sabbukati (bea perang) dan mengakui supremasi Kerajaan Gowa.
Pada masa Karaeng Tumapakrisik Kallonna ini pula, Gowa mulai dikenal sebagai bandar niaga yang ramai dikunjungi dan disinggahi oleh kapal-kapal untuk melakukan bongkar muat rempah-rempah. Setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511, banyak pedagang dari negara asing yang berdatangan ke Makassar, termasuk orang Melayu pada tahun 1512, juga orang Portugis yang pertama datang ke Makassar (Gowa –Tallo) menjalin hubungan persahabatan dan perdagangan pada tahun 1538. Orang Portugis inilah yang banyak mendapati kapal-kapal Makassar berkeliaran di sekeliling perairan Nusantara, bahkan sampai ke India, Siam (Muangthai) dan Filipina Selatan.
Untuk memperkuat pertahanan dan kedudukan istana di Somba Opu, Karaeng Tumapakrisik Kallonna memerintahkan untuk membangun sebuah benteng dari gundukan tanah yang mengelilingi istana pada tahun 1525. Benteng tersebut sekarang lebih dikenal dengan nama Benteng Somba Opu. Putra Karaeng Tumapakrisik Kallonna sebagai Raja Gowa X Karaeng Tunipallangga Ulaweng selanjutnya merenovasi benteng tersebut dengan tembok bata serta membangun benteng pertahanan lainnya, antara lain benteng Tallo, Ujung Tanah, Ujung Pandang, Mariso, Panakukang, Garassi, Galesong, Barombong, Anak Gowa dan Kalegowa.
Setelah karaeng Tumapakrisik Kallonna wafat, beliau digantikan oleh puteranya I Manriogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565) sebagai Raja Gowa X beserta mengkubuminya Nappakata`tana Daeng Padulung (Raja Tallo), melanjutkan cita-cita ayahandanya. Beliau memperkuat benteng-benteng pertahanan kerajaan dengan menjadikan Benteng somba Opu sebagai benmteng utama. Politik ekspansinya berjalan dengan baik. Kerajaan yang tidak mau tunduk pada pengaruh Gowa dianggap sebagai saingan yang harus ditaklukkan. Oleh karena itu Ia menyerang Bone yang waktu itu di bawah kekuasaan Raja bone VII, La Tenrirawe Bongkange Matinro Ri Gucina.
Setelah Tonipallangga meninggal dunia, Ia digantikan oleh Tonibatta (1565) sebagai Raja Gowa XI. Nama lengkapnya adalah I Tajibarani Daeng Marompa, Karaeng Data, Tonibatta. Baginda adalah yang paling pendek masa jabatannya, yakni hanya 40 hari. Baru saja menduduki tampuk kekuasaan, ia langsung mengadakan ekspansi ke kerajaan Bone. Tonibatta tewas dalam keadaan tertetak sehingga digelar Tonibatta.
Jenazah Baginda dikembalikan ke Gowa diiringi pembesar-pembesar terkemuka kerajaan Bone. Beberapa saat setelah upacara berkabung selesai, dilakukanlah perundingan perdamaian antara kedua kerajaan. Perjanjian itu biasa disebut Ulukanaya ri Caleppa ( kesepakatan di caleppa). Setelah perundingan selesai, Raja Bone beserta penasehatnya Kajaolalido langsung ke Gowa mengikuti pelantikan Raja Gowa XII, Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tonijallo (1565-1590).
Keadaan damai dimanfaatkan oleh kerajaan bone untuk menyusun aliansi Tellunpoccoe atau “tiga puncak kerajaan Bugis” untuk menghadapi agresi Gowa. Tonijallo memandang aliansi ini sebagai ancaman langsung terhadap supremasi Gowa. Oleh karena itu, pada tahun 1583 ia melancarkan serangan terhadap Wajo. Tujuh tahun kemudian 1590, serangan dilanjutkan kembali tetapi Gowa tetap tidak mampu mengalahkan Tellumpoccoe. Tonijallo sendiri tewas diamuk oleh pengikutnya.
Sepeninggal Tonijallo, Ia digantikan oleh I Tepu Karaeng Daeng Parambung Karaeng ri Bontolangkasa Tonipasulu sebagai Raja Gowa XIII (1590-1593). Tidak banyak aktifitas yang dilakukannya sebab ia hanya memerintah selama tiga tahun, kemudian dipecat dari jabatannya. Pemecatan dilakukan karena banyak perbuatannya yang buruk, seperti pembunuhan dan pemecatan pejabat kerajaan secara semena-mena.
Pengganti tonipasulu adalah saudaranya I Manggerangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tu Menanga ri Gaukanna, Raja Gowa ke-14, putra Tunijallo. Beliau dinobatkan ketika berumur 7 tahun . Oleh karena itu, pemerintahan kerajaan dijalankan oleh Mangkubumi/Raja Tallo-I yang bernama I Mallingkaang Daeng Manyonri` Karaeng Katangka, Karaeng Matoaya, Tumenanga Ri Agamana, Sultan Awwalul Islam.

4.Islamisasi Kerajaan Gowa
Penerimaan Islam pada beberapa tempat di Nusantara memperlihatkan dua pola yang berbeda. Pertama, Islam diterima oleh masyarakat bawah, kemudiaan berkembang dan diterima oleh masyarakat lapisan atas disebut bottom up. Kedua, Islam diterima langsung oleh elite penguasa kerajaan kemudian disosialisasikan dan berkembang pada lapisan masyarakat bawah disebut top down. Penerimaan Islam di Gowa menurut penulis sejarah Islam, memperlihatkan pola yang kedua.
Kerajaan yang mula-mula memeluk Islam dengan resmi di Sulawesi Selatan adalah kerajaan kembar Gowa-Tallo. Tanggal peresmian Islam itu menurut lontara Gowa dan Tallo adalah malam Jum’at, 22 September 1605, atau 9 Jumadil Awal 1014 H. Dinyatakan bahwa Mangkubumi kerajaan Gowa / Raja Tallo I Mallingkaeng Daeng Manyonri mula-mula menerima dan mengucapkan kalimat Syahadat (Ia di beri gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam) dan sesudah itu barulah raja Gowa ke-14 Mangenrangi Daeng Manrabia (Sultan Alauddin). Dua tahun kemudian seluruh rakyat Gowa-Tallo memeluk agama Islam berdasar atas prinsip cocius region eius religio, dengan diadakannya shalat Jumat pertama di masjid Tallo tanggal 9 November 1607 / 19 Rajab 1016 H.
Adapun yang mengislamkan kedua raja tersebut ialah Datu ri Bandang (Abdul Makmur Chatib Tunggal) seorang ulama datang dari Minangkabau (Sumatera) ke Sulawesi Selatan bersama dua orang temannya yakni Datu Patimang (Chatib Sulaeman) yang mengislamkan pula Raja Luwu La Pataware Daeng Parabung dan Datu ri Tiro (Chatib Bungsu) yang menyebar Agama Islam di Tiro dan sekitarnya.
Sekitar enam tahun kemudian, kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan pun menerima Islam. Penyebarannya di dukung oleh Kerajaan Gowa sebagai pusat kekuatan pengislaman. Kerajaan bugis seperti Bone, Soppeng, Wajo dan Sidenreng, berhubung karena menolak, akhirnya Raja Gowa melakukan perang, karena juga dianggap menentang kekuasaan Raja Gowa. Setelah takluk, penyebaran Islam dapat dilakukan dengan mudah di Kerajaan Bugis.

B.  Zaman Keemasan
Setelah Kerajaan Gowa menerima Islam, semakin menapak puncak kejayaannya. Pada masa pemerintahan Raja Gowa XV I Manuntungi Daeng Mattola Karaeng Ujung Karaeng Lakiung Sultan Malikulsaid (1639-1653), kekuasaan dan pengaruhnya kian meluas dan diakui sebagai pemegang hegemoni dan supremasi di Sulawesi Selatan, bahkan kawasan Timur Indonesia. Kemashuran Sultan Malikulsaid sampai ke Eropa dan Asia, terutama karena pada masa pemerintahannya, dia ditunjang oleh jasa-jasa Karaeng Pattingalloang sebagai Mangkubuminya yang terkenal itu, baik dari segi sosok kecendiakawanannya maupun keahliannya dalam berdiplomasi.
Tidak heran, Gowa ketika itu telah mampu menjalin hubungan internasional yang akrab dengan raja-raja dan pembesar dari negara luar, seperti Raja Inggris, Raja Kastilia di Spanyol, Raja Portugis, Raja Muda Portugis di Gowa (India), Gubernur Spayol dan Marchente di Mesoliputan (India), Mufti Besar Arabia dan terlebih lagi dengan kerajaan-kerajaan di sekitar Nusantara. Kerjasama dengan bangsa-bangsa asing, terutama Eropa sejak Somba Opu menjadi Bandar Niaga Internasional. Bangsa Eropa gemar dengan rempah-rempah telah menjalin hubungan dagang dengan Gowa, seperti Inggris, Denmark, Portugis, Spanyol, Arab, dan Melayu. Mereka telah mendirikan kantor perwakilan dagang di Somba Opu. Dari tahun ke tahun hubungan Kerajaan Gowa dengan bangsa Eropa tidak mengalami ronrongan. Barulah terganggu setelah kehadiran orang-orang Belanda yang ingin memonopoli perdagangan dan menjajah.
Tanggal 5 November 1653 Sultan Malikulsaid wafat setelah mengendalikan pemerintahan Gowa selama 16 tahun. Beliau digantikan oleh puteranya I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin yang menjadi raja Gowa XVI (1653-1669). Dimasa Hasanuddin inilah ketegangan Gowa dengan Belanda kian meruncing. Hal tersebut karena sikap beliau sangat tegas dan tak mau tunduk pada Belanda. Tahun 1654-1655 terjadi pertempuran hebat antara Gowa dan Belanda di kepulauan Maluku. April 1655 armada Gowa yang langsung dipimpin Hasanuddin menyerang Buton, dan berhasil mendudukinya serta menewaskan semua tentara Belanda di negeri itu.
Setelah Belanda melihat kenyataan peperangan di Kawasan Timur Nusantara banyak menimbulkan kerugian menghadapi Gowa. Belanda dengan berbagai siasat menawarkan perdamaian. Tahun 1655 Belanda mengutus Willem Vanderbeck bersama Choja Sulaeman menghadap Sultan membawa pesan damai dari Gubernur jenderal Joan Maectsuyker tetapi tidak berhasil. Tanggal 17 Agustus 1655 tercapai perjanjian perdamaian 26 pasal sebagai hasil perundingan antara utusan Gowa yang diwakili Karaeng Popo dengan Gubernur Jenderal Belanda yang diwakili Dewan Hindia, Van Oudshoon. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Panglima perang Belanda Mayor Van Dam di Batavia.
Perjanjian itu kemudian oleh Sultan dianggap sangat merugikan Gowa, terutama atas pasal larangan orang-orang Makassar berdagang di Banda dan Ambon, maka Gowa akhirnya menolak perjanjian itu. Tanggal 20 November 1655 utusan Gubernur Jenderal Joan Maetsyuiker untuk sekian kalinya mencoba lagi menawarkan perdamaian dengan mengutus van Wesenhager, tetapi Gowa menolaknya karena tuntutannya merugikan Gowa. Demikian berbagai siasat perdamaian yang diajukan Belanda selalu gagal sehingga permusuhan tidak terelakkan, sehingga terjadi pertempuran poun terus bergolak antara Gowa dengan Belanda, mulai dari perairan Maluku, Banda sampai Makassar.
Karena Belanda putus asa menghadapi kegigihan rakyat Gowa dibawa pimpinan Sultan Hasanuddin, maka pada bulan Oktober 1666 Belanda menggerakkan armada persenjataannya yang paling kuat dibawa pimpinan Cornelis Speelman ke perairan Indonesia bagian timur, guna meruntuhkan kerajaan Gowa dan pengaruh hegemoninya. Dengan dibantu pasukan Bone dan pengikut Aruppalakka, dan pasukan Ambon dibawa pimpinan Kapten Yonker dalam perang melawan Gowa. Posisi Gowa saat itu, tidak hanya berperang melawan bangsa asing tetapi juga bangsanya sendiri.
Tahun 1667 perang besarpun bergolak antara Pasukan Gowa dengan Belanda. Karena kekuatan tidak seimbang, menyebabkan benteng milik Gowa satu persatu direbut Belanda dan sekutunya, seperti benteng galesong, Barombong melalui pertempuran sengit yang banyak menelan korban kedua belah pihak. Melihat Gowa dalam posisi yang kurang menguntungkan, Speelman mengajukan tawaran perundingan. Tawaran tersebut diterima Sultan dengan pertimbangan, bukan karena takut berperang tetapi demi menghindari bertambahnya pertumpahan darah yang lebih banyak di kalangan orang-orang Makassar maupun sesama bangsa sendiri. Atas pertimbangan itu, Sultan Hasanuddin terpaksa menerima perdamaian dengan Belanda dengan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.
Dengan perjanjian Bongaya, Rakyat Gowa sangat dirugikan maka perangpun kembali berkecamuk. Pertempuran hebat itu membuat Belanda cemar, sehingga menambah bala bantuan dari batavia. Dalam pertempuran dahsyat Juni 1669 yang cukup banyak menelan korban di kedua belah pihak, akhirnya Belanda berhasil merebut benteng pertahanan yang paling kuat di Somba Opu. Benteng Somba Opu diduduki Belanda sejak 12 Juni 1669 dan kemudian dihancurkan, setelah pasukan Gowa mempertahankannya dengan gagah berani.
Perkembangan selanjutnya setelah Sultan Hasanuddin, Raja-raja Gowa masih terus melakukan perlawanan dengan Belanda. Hal itu dibuktikan dengan gigihnya perlawanan Raja Gowa XVIII Sultan Muhammad Ali (Putra Sultan Hasanuddin) yang gugur dalam tahanan Belanda di Batavia (Jakarta) pada tahun 1680. Raja Gowa XXVI Batara Gowa II setelah tertangkap dan diasingkan ke Sailon. Tidak terhitung putra-putri terbaik Gowa lainnya telah berjuan dan gugur di medan perang membela tanah airnya.

C.   Masa Kemunduran dan Keruntuhan
Peperangan demi peperangan melawan Belanda dan bangsanya sendiri (Bone) yang dialami Gowa, membuat banyak kerugian. Kerugian itu sedikit banyaknya membawa pengaruh terhadap perekonomian Gowa. Sejak kekalahan Gowa dengan Belanda terutama setelah hancurnya benteng Somba Opu, maka sejak itu pula keagungan Gowa yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya akhirnya mengalami kemunduran. Akibat perjanjian Bongaya, pada tahun 1667 sultan Hasanuddin Tunduk. Dalam perjanjian itu, nyatalah kekalahan Makassar. Pardagangannya telah habis dan negeri-negeri yang ditaklukkannya harus dilepaskan. Apalagi sejak Aru Palakka menaklukkan hampir seluruh daratan Sulawesi Selatan dan berkedudukan di Makassar, maka banyak orang Bugis yang pindah di Makassar. Sejak itu pula penjajahan Belanda mulai tertanam secara penuh di Indonesia. Makassar, sebagai ibukota kerajaan Gowa mengalami pengalihan-pengalihan baik dari segi penguasaan maupun perkembangan-perkembangannya.
 Pengaruh kekuasaan gowa makin lama makin tidak terasa di kalangan penduduk Makassar yang kebanyakan pengikut Aru Palaka dan Belanda . benteng Somba Opu yang selama ini menjadi pusat politik menjadi kosong dan sepi. Pemerintahan kerajaan Gowa yang telah mengundurkan diri dari Makassar ( Yang berada dalam masa peralihan) ke Kale Gowa dan Maccini Sombala tidak dapat dalam waktu yang cepat memulihkan diri untuk menciptakan stabilitas dalam negeri. Namun demikian Sultan Hasanuddin telah menunjukkan perjuangannya yang begitu gigih untuk membela tanah air dari cengkraman penjajah. Sebagai tanda jasa atas perjuangan Sultan Hasanuddin, Pemerintah Republik Indonesia atas SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 10 November 1973 menganugerahi beliau sebagai Pahlawan Nasional.
Demikian Gowa telah mengalami pasang surut dalam perkembangan sejak Raja Gowa pertama, Tumanurung (abad 13) hingga mencapai puncak keemasannya pada abad XVIII kemudian sampai mengalami transisi setelah bertahun-tahun berjuang menghadapi penjajahan. Dalam pada itu, sistem pemerintahanpun mengalami transisi di masa Raja Gowa XXXVI Andi Idjo Karaeng Lalolang, setelah menjadi bagian Republik Indonesia yang merdeka dan bersatu, berubah bentuk dari kerajaan menjadi daerah tingkat II Otonom. Sehingga dengan perubahan tersebut, Andi Idjo pun tercatat dalam sejarah sebagai Raja Gowa terakhir dan sekaligus Bupati Gowa pertama.